fbpx

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pertanian organik

Pertanian organik bukanlah istilah baru dalam budidaya pertanian, tekhnik bercocok tanam dengan menggunakan bahan-bahan organik sejatinya telah digunakan sejak jaman dahulu, bahkan teknik bercocok tanam organik ini adalah asal mula pertanian modern. Setelah perkembangan manusia yang sangat pesat dan berbanding lurus dengan permintaan bahan makanan yang sangat besar orang mulai mencari cara bagaimana mengelola pertanian untuk mendapatkan hasil yang banyak. selain itu perkembangan pertanian monokultur menyebabkan tingginya serangan OPT sehingga para petani mulai mencari cara menggunakan pengendalian secara kimia.
Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, ZPT dan aditif pakan), dengan tujuan untuk menyediakan produk-produk pertanian (terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya.
Banyak keunggulan yang bisa diperoleh ketika melakukan budi daya dengan cara organik. Namun, untuk memulai budi daya secara organik itu sendiri, petani perlu mematuhi hal-hal  utama yang harus diterapkan dalam pertanian secara organik.

Kondisi Lahan

Penggunaan lahan untuk pertanian organik harus terbebas dari residu pupuk dan pestisida sintesis, apabila lahan yang digunakan untuk pertanian organik adalah lahan bekas pertanian modern yang menggunakan pupuk anorganik dan pestisida sintesis setidaknya perlu dilakukan konversi lahan 1-3 tahun tergantung penggunaan sebelumnya. Selama masa transisi, produk pertanian yang dihasilkan belum bisa dikatakan organik karena biasanya masih mengandung residu-residu kimia, walaupun dalam proses ini baha-bahan yang digunakan sudah menggunakan bahan organik.
Hal lain yang harus diperhatikan adalah lingkungan disekitar lahan. Pencemaran zat kimia dari kebun tetangga bisa merusak sistem pertanian organik yang telah dibangun. Zat-zat pencemar bisa berpindah ke lahan organik karena terbawa oleh air, udara ataupun serangga hama.
Untuk skala rumah tangga kita bisa menggunakan green house sebagai lahan atau menggunakan sistem tanam hidroponik agar kita  bisa lebih mudah dalam mengatur kondisi lahan.

Benih

Benih yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. kita tidak bisa menggunakan benih yang dijual bebas di pasaran karena umumnya benih tersebut telah dicampur perlakuan benih dari bahan kimia. Apabila benih organik sulit didapatkan, untuk tahap awal bisa dibuat dengan memperbanyak benih sendiri. Perbanyakan bisa diambil dari benih konvensional yang sudah melewati tahap penyeleksian.
Benih tidak boleh diawetkan dengan pestisida, fungisida atau hormon-hormon sintetis lainnya. Selain itu, penggunaan benih dari hasil rekayasa genetika juga tidak diperkenankan untuk sistem pertanian organik.

Pupuk dan Penyubur Tanah

Pemupukan dalam pertanian organik wajib menggunakan pupuk organik. Jenis pupuk organik yang diperbolehkan adalah pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk kompos serta pupuk hayati.
Pertanian organik juga bisa menggunakan penyubur tanah untuk memperbaiki kesuburan tanah. Saat ini penyubur tanah yang banyak dijual dipasaran adalah  EM4, dll.
Dalam permentan bahan-bahan tambang mineral alami seperti kapur dan belerang masih ditoleransi untuk digunakan pada pertanian organik. Bahan-bahan mineral tersebut di antaranya adalah dolomit, gipsum, kapur khlorida dan batuan fosfat.

Pengairan

Kondisi pengairan atau irigasi menjadi penentu juga dalam pertanian organik. Akan menjadi sia-sia apabila telah menerapkan pertanian organik tetapi air yang mengaliri ke lahan banyak mengandung residu bahan kimia, olehnya apabila melakukan pertanian organik sebaiknya menggunakan air pompa sendiri, karena jika menggunakan irigasi yang dipakai bersama-sama tentunya lahan akan berisiko tercemar zat-zat kimia, apalagi jika tetangga lahan kita belum menggunakan sistem pertanian organik. Pada akhirnya produk pertanian organik tidak lagi menjadi organik karena telah terkontaminasi racun-racun kimia.

Pengendalian OPT

Pengendalian OPT dalam pertanian organik sebaiknya menerapkan konsep pengendalian hama terpadu, lakukan kombinasi sistem pengendalian misalnya secara mekanik, kultur teknis, budidaya. Hal-hal yang dilarang adalah menggunakan pestisida sintesis. Apabila terpaksa, misalnya terjadi ledakan hama atau penyakit, maka pengendalian bisa dilakukan dengan memanfaatkan pestisida alami atau pestisida organik yang banyak tersedia di alam dan sekitar kita.

 Penanganan Pasca Panen

Proses pencucian atau pembersihan hasil pertanian hendaknya menggunakan air yang memenuhi standar baku mutu organik. Hindari air yang sudah tercemar zat-zat kimia sintetsis. Dalam penyimpanan dan pengangkutan produk organik juga sebaiknya tidak dicampur dengan produk non organik.

Sertifikasi Pertanian Organik

Untuk kepentingan pemasaran dan meningkatkan kepercayaan konsumen, ada baiknya produk organik sudah disertifikasi. Selain sertifikasi, bisa juga dikembangkan alternatif lain untuk meyakinkan konsumen dengan kampanye. Misalnya gerakan untuk membeli pangan lokal, semakin lokal semakin baik.

Cek Juga

Teknik pemeliharaan jagung hibrida

Sebagai lanjutan dari artikel kami sebelumnya tentang budidaya jagung hibrida kami akan membahas tentang teknik pemeliharaan …

Budidaya Jagung Hibrida Terlengkap

Jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi yang banyak di tanaman di Indonesia, karena tanaman …

cara pemupukan 10 ton

Hasil panen padi 9-10 ton begini cara pemupukannya

Padi merupakan tanaman utama di Indonesia yang mana sebagi besar penduduk Indonesia masih menjadikan beras …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *