fbpx
hawar pelepah padi

Waspada hawar pelepah padi dapat menurunkan produksi sebesar 30 %

Padi sebagai tanaman utama pertanian Indonesia, tentu tidak luput dari gangguan organisme penggangu tanaman (OPT) salah satunya adalah Penyakit hawar pelepah padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani Kuhn (AG-1), merupakan salah satu penyakit yang saat ini berkembang dan tersebar luas di daerah-daerah sentra padi di Indonesia mulai dari Sumatera sampai Sulawesi.
Salah satu faktor pemicu berkembanganya penyakit ini adalah penanaman secara luas, padi varietas unggul tipe pendek beranakan banyak dan dipupuk dengan dosis tinggi terutama urea, dapat meningkatkan intensitas serangan penyakit hawar pelepah. Penyakit hawar pelepah menjadi semakin penting peranannya di dalam sistem produksi padi sawah, terutama di daerah
pertanian padi yang intensif karena serangan penyakit hawar pelepah padi mampu menurunkan produksi sampai 30 %. karena penyakit ini menyebabkan gabah tidak berisi penuh atau bahkan hampa

Pengamatan menunjukkan bahwa hawar pelepah berkembang lebih parah di daerah rendah (0−200 m dpl) daripada di daerah sedang dan tinggi, keparahan penyakit terlihat semakin meningkat pada varietas padi tipe pendek beranakan banyak. jamur penyebab penyakit  dalam sisa tanaman mempunyai peranan penting dalam perkembangan penyakit di pertanaman.

Penyakit ini merusak pelepah, sehingga untuk menemukan penyakit perlu dibuka pelepah daun padi. Tanaman yang terserang mudah rebah, makin awal terjadi kerebahan, makin besar kehilangan hasil. Penyakit hawar pelepah umumnya terjadi pada saat tanaman mulai membentuk anakan sampai menjelang panen. Tetapi, serangan penyakit ini juga dapat dijumpai pada tanaman muda.

Gejala Serangan penyakit hawar Pelepah

  1. Terdapat gejala bercak pada pelepah daun, bercak bisa berkembang sampai daun bendera. Bercak dimulai pada bagian pelepah dekat permukaan air pertama, selanjutnya berkembang ke pelepah atau helai daun bagian atasnya.
  2. Bercak spot ke abu-abuan pada pelepah, dan lama-kelamaan melebar
  3. Bercak awalnya berwarna kelabu kehijau-hijauan, berbentuk oval atau elips dengan panjang 1–3 cm, pada pusat bercak warna menjadi putih keabu-abuan dengan tepi berwarna coklat.
  4. Bercak membentuk sklerotia berwarna coklat dan mudah lepas.
  5. Dalam keadaan lembab dari bercak tumbuh benang-benang putih atau miselia atau coklat muda menjalar ke bagian atas tanaman dan menulari pelepah daun atau helaian daun dengan cara bersentuhan satu sama lain.
  6. Pada serangan berat, seluruh daun menjadi hawar.
Baca juga :  Asuransi pertanian, sebuah solusi menghadapi musim tak menentu

Cara Mengendalikan penyakit hawar Pelepah

  • Pengaturan jarak tanam yang tidak terlalu rapat untuk mengatur kelembaban sehingga mempengaruhi perkembangan penyakit
  • Pengaturan pengairan, dari berbagai penelitian ketika pengairan hanya dilakukan dengan cara penggenangan pada parit keliling kelembapan relatif menurun 2,8%, dan turun sebesar 4,4% ketika dilakukan penggenangan lahan 1 kali seminggu
  • Pemupukan berimbang, hindari penggunaan pupuk N (urea) yang terlalu banyak karena pemberian Nitrogen yang banyak dapat memicu perkembangan penyakit ini.
  • Sisa tanaman dan gulma di sekitar tanaman harus dibersihkan, bisa digunakan sebagai pupuk kompos karena jamur hawar pelepah dapat bertahan di jerami dan rumput.
  • Jika kondisi serangan tinggi atau pertanaman berada di daerah endemis, sebaiknya melakukan aplikasi fungisida berbahan aktif  Azoxistrobin, benomyl, difenoconazol, mankozeb, dan validamycin. Sebagai contoh fungisida yang efektif dalam pengendalian penyakit ini adalah Amistartop 325 SC dengan kombinasi bahan aktif Azoxistrobin dan difenokonazole

Cek Juga

Penyakit bulai masih menjadi kendala utama di tanaman jagung

Usaha peningkatan produksi jagung menuju swasembada pangan yang terus digalakkan oleh pemerintah mendorong budidaya jagung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *